Archive for 2014
Pengambilan Keputusan
PENGAMBILAN
KEPUTUSAN
A.
Definisi
Konseptual
1.
Ralph C. Davis (Hasan, 2004), memberikan
definisi atau atau pengertian keputusan sebagai hasil pemecahan masalah yang
dihadapinya dengan tegas. Suatu keputusan merupakan jawaban yang pasti terhadap
suatu pertanyaan. Keputusan harus dapat menjawab pertanyaan tentang apa yang
dibicarakan dalam hubungannya dengan perencanaan. Keputusan dapat pula berupa
tindakan terhadap pelaksanaan yang sangat menyimpang dari rencana semula.
2.
Mary Follet, memberikan
definisi atau pengertian keputusan sebagai suatu atau sebagai hokum situasi.
Apabila semua fakta dari situasi itu dapat diperolehnya dan semuayang terlibat,
baik pengawas maupun pelaksana mau mentaati hukumannya atau ketentuannya, maka
tidak sama dengan mentaati perintah. Wewenang tinggal dijalankan, tetapi itu
merupakan wewenang dari hukum situasi.
3.
Sondang P. Siagian, memberikan
definisi atau pengertian pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan
yang sistematis terhadap hakikat alternatif yang dihadapi dan mengambil
tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling cepat.
4.
“Decision making is a process of making a choice from a number
of alternatives to achieve a desired result (Eisenfuhr, 2011)”. Artinya Pengambilan keputusan adalah proses
membuat pilihan dari sejumlah alternatif untuk mencapai hasil yang diinginkan.
B.
Penelitian
yang Relevan
Pengambilan keputusan adalah salah satu dari
aktivitas yang paling utama di mana pengurus sekolah dilibatkan sehari-hari.
Sukses suatu sekolah atau daerah sekolah dengan kritis dihubungkan ke keputusan
efektif.
Ilmuwan historis telah menekankan dua model
dasar pengambilan keputusan model rasional dan model rasionalitas terikat
(Maret, 2010).
·
Model
Rasional
Pengambilan keputusan administratif
diasumsikan untuk dijadikan masuk akal. Dengan ini kita mengartikan bahwa
keputusan buatan pengurus sekolah di bawah kepastian. Mereka mengetahui
alternatif mereka, mereka mengetahui hasil mereka, mereka mengetahui
ukuran-ukuran keputusan mereka, dan mereka mempunyai kemampuan untuk membuat
pilihan jumlah maksimum dan kemudian untuk menerapkan ( Towler, 2010). Menurut
model yang masuk akal, proses pengambilan keputusan dapat dipecah ke dalam enam
langkah-langkah ( Schoenfeld, 2011)
1. Mengidentifikasi masalah
2. Alternatif pembangkit
3. Mengevaluasi alternatif
4. Pemilihan sebuah alternatif
5. Menerapkan keputusan
6. Evaluasi efektivitas keputusan
·
Model
Rasional Terikat
Berlawanan dengan rasionalitas lengkap di
dalam pengambilan keputusan, rasionalitas yang terikat menyiratkan hal berikut
ini ( Simon, 1982, 1997, 2009):
1. Keputusan akan selalu didasarkan pada suatu yang
tidak sempurna dan, sampai taraf tertentu, pengertian tidak cukup dari yang
dialami, yang benar masalah dihadapi.
2. Pembuat keputusan tidak pernah akan berhasil
membangitkan semua solusi alternatif mungkin untuk pertimbangan.
3. Alternatif selalu dievaluasi dengan
kesenjangan sebab adalah mustahil untuk meramalkan dengan teliti semua
konsekwensi berhubungan dengan alternatif masing-masing.
4. Keputusan yang terakhir mengenai alternatif
yang mana untuk memilih harus didasarkan pada ukuran beberapa selain dari
maksimalisasi atau optimisasi sebab adalah mustahil untuk pernah menentukan
alternatif yang adalah optimal.
C.
Pembahasan
Pengambilan
keputusan sangat penting dalam manajemen dan merupakan tugas utama dari seorang
pemimpin(manajer). Definisi-definisi pengambilan keputusan menurut beberapa
para ahli:
·
George R. Terry
“election of behavioral alternative is certain
from two or more existing alternative”
Pemilihan alternatif perilaku (kelakuan) tertentu
dari dua atau lebih alternatif yang ada.
·
Syafaruddin
Anzizhanz
Proses pemecahan
masalah dengan menentukan pilihan dari beberapa alternative untuk menetapkan
suatu tindakan dalam mencapai tujuan yang diinginkan.
·
James A. F. Stoner
“process
used to chosen an action as mode trouble shooting.”
Proses yang digunakan untuk memilih suatu
tindakan sebagai cara pemecahan masalah.
1.
Langkah-langkah
dalam pengambilan keputusan
a.
Mengidentifikasi suatu masalah
b.
Memperjelas dan menyusun prioritas sasaran-sasaran
c.
Menciptakan pilihan-pilihan
d.
Menilai pilihan-pilihan
e.
Memperbandingkan akibat-akibat yang
diramalkan pada masing-masing pilihan
f.
Memilih pilihan dengan konsekuensi-konsekuensi
dengan dengan sasaran-sasaran (Drummond,1995:3)
2.
Jenis Masalah dan Keputusan
Masalah atau problem dibagi menjadi 3
golongan besar yaitu,
1.
Masalah Korektif
adalahmasalah
yang timbul karena adanya penyimpangan dari apa yang direncanakan.
2.
Masalah Progresif adalah
suatu masalah yang terjadi akibat adanya keinginan untuk memperbaiki atau
meningkatkan suatu prestasi atau hasil masa lalu.
3.
Masalah kreatif adalah
suatu masalah yang muncul karena adanya keinginan untuk menciptakan sesuatu
yang sama sekali baru.
Secara
umum keputusan terbagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut,
·
Keputusan Strategis,
setiap organisasi melahirkan berbagai kebijakan atau organisasional. Kebijakan
dan arah organisasi merupakan keputusan strategis.
·
Keputusan
Operasional, adapun keputusan operasional menyangkut
pengelolaan organisasi sehari-hari. Keputusan operasional sangat
menentukan efektivitas keputusan strategis yang diambil oleh para manajer
puncak(Drummond, 1995:13)
Disisi
lain, ada pula jenis keputusan berdasarkan masalah yang dihadapi
yaitu:
·
Keputusan yang
diprogramkan(program decision)
·
Keputusan ini adalah keputusan yang dibuat
berdasarkan pada problem yang diketahui secara baik(well-structured
problems) atau masalahnya diketahui secara jelas.
·
Keputusan yang
tidak diprogram(non-programed decision)
·
Keputusan ini adalah keputusan yang diambil
atau dibuat berdasarkan masalah yang tidak diketahui secara jelas(ill-stuctured
problems) atau data dan informasinya kurang tersedia sebagaimana mestinya.
3. Gaya pengambilan keputusan
Gaya pengambilan keputusan
terbagi menjadi 4, yaitu,
1. Gaya Direktif
Pembuat keputusan gaya
direktif mempunyai toleransi rendah pada ambiguitas, dan berorienytasi pada
tugas dan masalah teknis. Pembuat keputusan ini cenderung lebih efisien, logis,
pragmatis dan sistematis dalam memecahkan masalah.Pembuat keputusan direktif
juga berfokus pada fakta dan menyelesaikan segala sesuatu dengan cepat. Mereka
berorientasi pada tindakan, cenderung mempunyai fokus jangka pendek, suka
menggunakan kekuasaan, ingin mengontrol, dan secan menampilkan gaya
kepemimpinan otokratis.
2. Gaya Analitik
Pembuat keputusan gaya
analitikmempunyai toleransi yang tinggi untuk ambiguitas dan tugas yang
kuat serta orientasi teknis. Jenis ini suka menganalisis situasi; pada
kenyataannya, mereka cenderung terlalu menganalisis sesuatu.Mereka mengevaluasi
lebih banyak informasi dan alternatif darpada pembuat keputusan direktif.Mereka
juga memerlukan waktu lama untuk mengambil kepuputusan mereka merespons situasi
baru atau tidak menentu dengan baik. Mereka juga cenderung mempunyai gaya
kepemimpinan otokratis.
3. Gaya Konseptual
Pembuat keputusan gaya
konseptual mempunyai toleransi tinggi untuk ambiguitas, orang yang kuat dan
peduli pada lingkungan sosial. Mereka berpandangan luas dalam memecahkan
masalah dan suka mempertimbangkan banyak pilihan dan kemungkinan masa
mendatang.Pembuat keputusan ini membahas sesuatu dengan orang sebanyak mungkin
untuk mendapat sejumlah informasi dan kemudian mengandalkan intuisi dalam
mengambil keputusan.Pembuat keputusan konseptual juga berani mengambil risiko
dan cenderung bagus dalam menemukan solusi yang kreatif atas masalah.Akan
tetapi, pada saat bersamaan, mereka dapat membantu mengembangkan pendekatan
idealistis dan ketidakpastian dalam pengambilan keputusan.
4. Gaya Perilaku
Pembuat keputusan gaya
perilaku ditandai dengan toleransi ambiguitas yang rendah, orang yang kuat dan
peduli lingkungan sosial. Pembuat keputusan cenderung bekerja dengan baik
dengan orang lain dan menyukai situasi keterbukaan dalam pertukaran pendapat.
Mereka cenderung menerima saran, sportif dan bersahabat, dan menyukai informasi
verbal daripada tulisan. Mereka cenderung menghindari konflik dan sepenuhnya
peduli dengan kebahagiaan orang lain. Akibatnya, pembuat keputusan mempunyai
kesulitan untuk berkata 'tidak' kepada orang lain, dan mereka tidak membuat
keputusan yang tegas, terutama saat hasil keputusan akan membuat orang sedih.
4. Kondisi Pengambilan Keputusan
1. Pengambilan Keputusan dalam Kondisi Pasti
Yaitu
pengambilan keputusan dimana berlangsung hal-hal,
·
Alternatif yang harus dipilih hanya memiliki
satu konsekuensi/jawaban/hasil. Ini berarti hasil dari setiap alternatif
tindakan tersebut dapat ditentukan dengan pasti.
·
Keputusan yg diambil didukung oleh
informasi/data yg lengkap, sehingga dapat diramalkan secara akurat hasil dari
setiap tindakan yang dilakukan. Dalam kondisi ini, pengambil keputusan secara
pasti mengetahui apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.
·
Biasanya selalu dihubungkan dengan keputusan
yang menyangkut masalah rutin, karena kejadian tertentu di masa yang akan
datang dijamin terjadi. Pengambilan keputusan seperti ini dapat ditemui dalam
kasus/model yg beresifat deterministik.
2.
Pengambilan Keputusan
dalam Kondisi Resiko
adalah pengambilan keputusan dimana
berlangsung hal-hal,
·
Alternatif yang dipilih mengandung lebih dari
satu kemungkinan hasil.
·
Pengambilan keputusan memiliki lebih dari
satu alternatif tindakan.
·
Diasumsikan bahwa pengambilan keputusan
mengetahui peluang yang akan terjadi terhadap berbagai tindakan dan hasil.
·
Resiko terjadi karena hasil pengumpulan
keputusan tidak dapat diketahui dengan pasti, walaupun diketahui nilai
probabilitasnya.
·
Pada kondisi ini ada informasi atau data yang
akan mendukung dlm membuat keputusan, berupa besar atau nilai peluang
terjadinya bermacam-macam keadaan.
·
Teknik pemecahannya menggunakan konsep
probabilitas, seperti model keputusan probabilistik, model inventori
probabilistik, model antrian probabilistik.
3.
Pengambilan
Keputusan dalam Kondisi Tidak Pasti
Yaitu pengambilan keputusan dimana,
·
Tidak diketahu sama sekali hal jumlah kondisi
yang mungkin timbul serta kemungkinan-kemungkinan munculnya kondisi-kondisi
tersebut.
·
Pengambilan keputusan tidak dapat menentukan
probabilitas terjadinya berbagai kondisi atau hasil yang keluar.
·
Pengambil keputusan tidak mempunyai
pengetahuan atau informasi lengkap mengenai peluang terjadinya bermacam-macam
keadaan tersebut.
·
Hal yang akan diputuskan biasanya relatif
belum pernah terjadi. Tingkat ketidakpastian keputusan semacam ini dapat
dikurangi dengan cara,
o Mencari
informasi lebih banyak.
o Melalui
riset atau penelitian.
o Penggunaan
probabilitas subjektif.
·
Teknik pemecahannya adalah menggunakan
beberapa metode/kreteria, yaitu metode maximin, metode maximax, metode Laplace,
metode minimax regret, metode relaisme dan dibantu dengan tabel hasil (pay off
tabel).
4.
Pengambilan
Keputusan dalam Kondisi Konflik
Adalah pengambilan keputusan dimana,
·
Kepentingan dua atau lebih pengambil
keputusan saling bertentangan dalam situasi persaingan.
·
Pengambil keputusan saling bersaing dengan
pengambil keputusan lainnya yg rasional, tanggap dan bertujuan untuk
memenangkan persaingan tersebut.
·
Pengambil keputusan bertindak sebagai pemain dalam
suatu permainan.
·
Teknik pemecahannya adalah menggunakan teori
permainan.
5.
Tata Cara Pengambilan Keputusan
6. Jenis-Jenis
Keputusan Organisasi
Ada
beberapa jenis keputusan yang dapat dilakukan oleh seorang pada sebuah
organisasi,yaitu:
1.
Keputusan penyelesaian masalah (Problem Solving
Decision), Pengambilan
keputusan yang dilakukan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi.
2.
Keputusan berdasarkan intuisi (Intuitive Decision), Keputusan ini diambil berdasarkan
perasaan atau intuisi seseorang, biasanya dipengaruhi oleh pengetahuan dan
pengalaman yang dimiliki.
3.
Keputusan mengatasi konflik (Conflict Decision), Keputusan ini diambil dengan tujuan
agar konflik yang timbul tidak berujung pada pertikaian dan tidak menimbulkan
dampak negative bagi organisasi/perusahaan.
4.
Keputusan strategik (Strategic Decision), Keputusan ini diambil dengan tujuan
agar suatu organisasi/perusahaan bisa menyelesaikan dan mengatasi konflik yang
timbul kapanpun.
5.
Keputusan kreatif (Creative Decision), Apabila suatu masalah sering terjadi
baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kegiatan bisnis, perlu diambil
sebuah keputusan yang bersifat tuntas, kreatif dan inovatif sehingga
permasalahan tersebut tidak terjadi lagi.
6.
Tanpa keputusan atau keputusan diam (Silent
Decision), Dengan
tidak mengambil langkah atau tindakan dan justru memilih diam sebenarnya
keputusan sudah diambil dan jenis keputusan ini disebut keputusan diam.
Biasanya keputusan ini diambil karena,
1. Menungggu apa yang akan terjadi
2. Melihat reaksinya
3. Tidak mau mengikuti arus atau emosi
yang muncul
4. Membiarkan itu terjadi
DAFTAR PUSTAKA
