Pengambilan Keputusan



PENGAMBILAN KEPUTUSAN

A.   Definisi Konseptual
1.    Ralph C. Davis (Hasan, 2004), memberikan definisi atau atau pengertian keputusan sebagai hasil pemecahan masalah yang dihadapinya dengan tegas. Suatu keputusan merupakan jawaban yang pasti terhadap suatu pertanyaan. Keputusan harus dapat menjawab pertanyaan tentang apa yang dibicarakan dalam hubungannya dengan perencanaan. Keputusan dapat pula berupa tindakan terhadap pelaksanaan yang sangat menyimpang dari rencana semula.
2.    Mary Follet, memberikan definisi atau pengertian keputusan sebagai suatu atau sebagai hokum situasi. Apabila semua fakta dari situasi itu dapat diperolehnya dan semuayang terlibat, baik pengawas maupun pelaksana mau mentaati hukumannya atau ketentuannya, maka tidak sama dengan mentaati perintah. Wewenang tinggal dijalankan, tetapi itu merupakan wewenang dari hukum situasi.
3.    Sondang P. Siagian, memberikan definisi atau pengertian pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap hakikat alternatif yang dihadapi dan mengambil tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling cepat.
4.    Decision making is a process of making a choice from a number of alternatives to achieve a desired result (Eisenfuhr, 2011)”.  Artinya Pengambilan keputusan adalah proses membuat pilihan dari sejumlah alternatif untuk mencapai hasil yang diinginkan.

B.   Penelitian yang Relevan
Pengambilan keputusan adalah salah satu dari aktivitas yang paling utama di mana pengurus sekolah dilibatkan sehari-hari. Sukses suatu sekolah atau daerah sekolah dengan kritis dihubungkan ke keputusan efektif.
Ilmuwan historis telah menekankan dua model dasar pengambilan keputusan model rasional dan model rasionalitas terikat (Maret, 2010).
·         Model Rasional
Pengambilan keputusan administratif diasumsikan untuk dijadikan masuk akal. Dengan ini kita mengartikan bahwa keputusan buatan pengurus sekolah di bawah kepastian. Mereka mengetahui alternatif mereka, mereka mengetahui hasil mereka, mereka mengetahui ukuran-ukuran keputusan mereka, dan mereka mempunyai kemampuan untuk membuat pilihan jumlah maksimum dan kemudian untuk menerapkan ( Towler, 2010). Menurut model yang masuk akal, proses pengambilan keputusan dapat dipecah ke dalam enam langkah-langkah ( Schoenfeld, 2011)
1.    Mengidentifikasi masalah
2.    Alternatif pembangkit
3.    Mengevaluasi alternatif
4.    Pemilihan sebuah alternatif
5.    Menerapkan keputusan
6.    Evaluasi efektivitas keputusan

·         Model Rasional Terikat
Berlawanan dengan rasionalitas lengkap di dalam pengambilan keputusan, rasionalitas yang terikat menyiratkan hal berikut ini ( Simon, 1982, 1997, 2009):
1.    Keputusan akan selalu didasarkan pada suatu yang tidak sempurna dan, sampai taraf tertentu, pengertian tidak cukup dari yang dialami, yang benar masalah dihadapi.
2.    Pembuat keputusan tidak pernah akan berhasil membangitkan semua solusi alternatif mungkin untuk pertimbangan.
3.    Alternatif selalu dievaluasi dengan kesenjangan sebab adalah mustahil untuk meramalkan dengan teliti semua konsekwensi berhubungan dengan alternatif masing-masing.
4.    Keputusan yang terakhir mengenai alternatif yang mana untuk memilih harus didasarkan pada ukuran beberapa selain dari maksimalisasi atau optimisasi sebab adalah mustahil untuk pernah menentukan alternatif yang adalah optimal.

C.   Pembahasan
Pengambilan keputusan sangat penting dalam manajemen dan merupakan tugas utama dari seorang pemimpin(manajer). Definisi-definisi pengambilan keputusan menurut beberapa para ahli:
·         George R. Terry  
election of behavioral alternative is certain from two or more existing alternative”
Pemilihan alternatif perilaku (kelakuan) tertentu dari dua atau lebih alternatif yang ada.
·         Syafaruddin Anzizhanz
Proses pemecahan masalah dengan menentukan pilihan dari beberapa alternative untuk menetapkan suatu tindakan dalam mencapai tujuan yang diinginkan.
·         James A. F. Stoner
process used to chosen an action as mode trouble shooting.”
Proses yang digunakan untuk memilih suatu tindakan sebagai cara pemecahan masalah.

1.    Langkah-langkah dalam pengambilan keputusan
a.    Mengidentifikasi suatu masalah
b.    Memperjelas dan menyusun prioritas sasaran-sasaran
c.    Menciptakan pilihan-pilihan
d.    Menilai pilihan-pilihan
e.    Memperbandingkan akibat-akibat yang diramalkan pada masing-masing pilihan
f.     Memilih pilihan dengan konsekuensi-konsekuensi dengan dengan sasaran-sasaran (Drummond,1995:3)

2.    Jenis Masalah dan Keputusan
Masalah atau problem dibagi menjadi 3 golongan besar yaitu,
1.    Masalah Korektif adalahmasalah yang timbul karena adanya penyimpangan dari apa yang direncanakan.
2.    Masalah Progresif  adalah suatu masalah yang terjadi akibat adanya keinginan untuk memperbaiki atau meningkatkan suatu prestasi atau hasil masa lalu.
3.    Masalah kreatif  adalah suatu masalah yang muncul karena adanya keinginan untuk menciptakan sesuatu yang sama sekali baru.
Secara umum keputusan terbagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut,
·         Keputusan Strategis, setiap organisasi melahirkan berbagai kebijakan atau organisasional. Kebijakan dan arah organisasi merupakan keputusan strategis.
·         Keputusan Operasional, adapun keputusan operasional menyangkut pengelolaan organisasi sehari-hari. Keputusan operasional sangat menentukan efektivitas keputusan strategis yang diambil oleh para manajer puncak(Drummond, 1995:13)
Disisi lain, ada pula jenis keputusan  berdasarkan masalah yang dihadapi yaitu:
·         Keputusan yang diprogramkan(program decision)
·         Keputusan ini adalah keputusan yang dibuat berdasarkan pada problem yang diketahui secara baik(well-structured problems) atau masalahnya diketahui secara jelas.
·         Keputusan yang tidak diprogram(non-programed decision)
·         Keputusan ini adalah keputusan yang diambil atau dibuat berdasarkan masalah yang tidak diketahui secara jelas(ill-stuctured problems) atau data dan informasinya kurang tersedia sebagaimana mestinya.

3.    Gaya pengambilan keputusan
Gaya pengambilan keputusan terbagi menjadi 4, yaitu,
1.    Gaya Direktif
Pembuat keputusan gaya direktif mempunyai toleransi rendah pada ambiguitas, dan berorienytasi pada tugas dan masalah teknis. Pembuat keputusan ini cenderung lebih efisien, logis, pragmatis dan sistematis dalam memecahkan masalah.Pembuat keputusan direktif juga berfokus pada fakta dan menyelesaikan segala sesuatu dengan cepat. Mereka berorientasi pada tindakan, cenderung mempunyai fokus jangka pendek, suka menggunakan kekuasaan, ingin mengontrol, dan secan menampilkan gaya kepemimpinan otokratis.
2.    Gaya Analitik
Pembuat keputusan gaya analitikmempunyai toleransi yang tinggi untuk ambiguitas dan tugas yang  kuat serta orientasi teknis. Jenis ini suka menganalisis situasi; pada kenyataannya, mereka cenderung terlalu menganalisis sesuatu.Mereka mengevaluasi lebih banyak informasi dan alternatif darpada pembuat keputusan direktif.Mereka juga memerlukan waktu lama untuk mengambil kepuputusan mereka merespons situasi baru atau tidak menentu dengan baik. Mereka juga cenderung mempunyai gaya kepemimpinan otokratis.
3.    Gaya Konseptual
Pembuat keputusan gaya konseptual mempunyai toleransi tinggi untuk ambiguitas, orang yang kuat dan peduli pada lingkungan sosial. Mereka berpandangan luas dalam memecahkan masalah dan suka mempertimbangkan banyak pilihan dan kemungkinan masa mendatang.Pembuat keputusan ini membahas sesuatu dengan orang sebanyak mungkin untuk mendapat sejumlah informasi dan kemudian mengandalkan intuisi dalam mengambil keputusan.Pembuat keputusan konseptual juga berani mengambil risiko dan cenderung bagus dalam menemukan solusi yang kreatif atas masalah.Akan tetapi, pada saat bersamaan, mereka dapat membantu mengembangkan pendekatan idealistis dan ketidakpastian dalam pengambilan keputusan.
4.    Gaya Perilaku
Pembuat keputusan gaya perilaku ditandai dengan toleransi ambiguitas yang rendah, orang yang kuat dan peduli lingkungan sosial. Pembuat keputusan cenderung bekerja dengan baik dengan orang lain dan menyukai situasi keterbukaan dalam pertukaran pendapat. Mereka cenderung menerima saran, sportif dan bersahabat, dan menyukai informasi verbal daripada tulisan. Mereka cenderung menghindari konflik dan sepenuhnya peduli dengan kebahagiaan orang lain. Akibatnya, pembuat keputusan mempunyai kesulitan untuk berkata 'tidak' kepada orang lain, dan mereka tidak membuat keputusan yang tegas, terutama saat hasil keputusan akan membuat orang sedih.


4.    Kondisi Pengambilan Keputusan
1.    Pengambilan Keputusan dalam Kondisi Pasti
Yaitu pengambilan keputusan dimana berlangsung hal-hal,
·         Alternatif yang harus dipilih hanya memiliki satu konsekuensi/jawaban/hasil. Ini berarti hasil dari setiap alternatif tindakan tersebut dapat ditentukan dengan pasti.
·         Keputusan yg diambil didukung oleh informasi/data yg lengkap, sehingga dapat diramalkan secara akurat hasil dari setiap tindakan yang dilakukan. Dalam kondisi ini, pengambil keputusan secara pasti mengetahui apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.
·         Biasanya selalu dihubungkan dengan keputusan yang menyangkut masalah rutin, karena kejadian tertentu di masa yang akan datang dijamin terjadi. Pengambilan keputusan seperti ini dapat ditemui dalam kasus/model yg beresifat deterministik.
2.    Pengambilan Keputusan dalam Kondisi Resiko
adalah pengambilan keputusan dimana berlangsung hal-hal,
·         Alternatif yang dipilih mengandung lebih dari satu kemungkinan hasil.
·         Pengambilan keputusan memiliki lebih dari satu alternatif tindakan.
·         Diasumsikan bahwa pengambilan keputusan mengetahui peluang yang akan terjadi terhadap berbagai tindakan dan hasil.
·         Resiko terjadi karena hasil pengumpulan keputusan tidak dapat diketahui dengan pasti, walaupun diketahui nilai probabilitasnya.
·         Pada kondisi ini ada informasi atau data yang akan mendukung dlm membuat keputusan, berupa besar atau nilai peluang terjadinya bermacam-macam keadaan.
·         Teknik pemecahannya menggunakan konsep probabilitas, seperti model keputusan probabilistik, model inventori probabilistik, model antrian probabilistik.
3.    Pengambilan Keputusan dalam Kondisi Tidak Pasti
Yaitu pengambilan keputusan dimana,
·         Tidak diketahu sama sekali hal jumlah kondisi yang mungkin timbul serta kemungkinan-kemungkinan munculnya kondisi-kondisi tersebut.
·         Pengambilan keputusan tidak dapat menentukan probabilitas terjadinya berbagai kondisi  atau hasil yang keluar.
·         Pengambil keputusan tidak mempunyai pengetahuan atau informasi lengkap mengenai peluang terjadinya bermacam-macam keadaan tersebut.
·         Hal yang akan diputuskan biasanya relatif belum pernah terjadi. Tingkat ketidakpastian keputusan semacam ini dapat dikurangi dengan cara,
o   Mencari informasi lebih banyak.
o   Melalui riset atau penelitian.
o   Penggunaan probabilitas subjektif.
·         Teknik pemecahannya adalah menggunakan beberapa metode/kreteria, yaitu metode maximin, metode maximax, metode Laplace, metode minimax regret, metode relaisme dan dibantu dengan tabel hasil (pay off tabel).
4.    Pengambilan Keputusan dalam Kondisi Konflik
Adalah pengambilan keputusan dimana,
·         Kepentingan dua atau lebih pengambil keputusan saling bertentangan dalam situasi persaingan.
·         Pengambil keputusan saling bersaing dengan pengambil keputusan lainnya yg rasional, tanggap dan bertujuan untuk memenangkan persaingan tersebut.
·         Pengambil keputusan bertindak sebagai pemain dalam suatu permainan.
·         Teknik pemecahannya adalah menggunakan teori permainan.

5.    Tata Cara Pengambilan Keputusan




 
mpunj-at.blogspot.com


6.    Jenis-Jenis Keputusan Organisasi 
Ada beberapa jenis keputusan yang dapat dilakukan oleh seorang pada sebuah organisasi,yaitu: 
1.    Keputusan penyelesaian masalah (Problem Solving Decision), Pengambilan keputusan yang dilakukan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi. 
2.    Keputusan berdasarkan intuisi (Intuitive Decision), Keputusan ini diambil berdasarkan perasaan atau intuisi seseorang, biasanya dipengaruhi oleh pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki. 
3.    Keputusan mengatasi konflik (Conflict Decision), Keputusan ini diambil dengan tujuan agar konflik yang timbul tidak berujung pada pertikaian dan tidak menimbulkan dampak negative bagi organisasi/perusahaan. 
4.    Keputusan strategik (Strategic Decision), Keputusan ini diambil dengan tujuan agar suatu organisasi/perusahaan bisa menyelesaikan dan mengatasi konflik yang timbul kapanpun. 
5.    Keputusan kreatif (Creative Decision), Apabila suatu masalah sering terjadi baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kegiatan bisnis, perlu diambil sebuah keputusan yang bersifat tuntas, kreatif dan inovatif sehingga permasalahan tersebut tidak terjadi lagi. 
6.    Tanpa keputusan atau keputusan diam (Silent Decision), Dengan tidak mengambil langkah atau tindakan dan justru memilih diam sebenarnya keputusan sudah diambil dan jenis keputusan ini disebut keputusan diam. Biasanya keputusan ini diambil karena,
1.      Menungggu apa yang akan terjadi
2.      Melihat reaksinya
3.      Tidak mau mengikuti arus atau emosi yang muncul 
4.      Membiarkan itu terjadi 

DAFTAR PUSTAKA


Monday, December 15, 2014
Posted by Unknown

Popular Post

Powered by Blogger.

- Copyright © Manajemen Pendidikan UNJ -xMyth- Powered by Blogger - Designed by Rifqi Pradana -